Air Mata di Penghujung Tahun Refleksi Banjir Sumatera dan Jeritan Alam

Ahmad Fajarisma

Banjir Sumatera

Saat kalender bersiap menutup lembaran usang, dan aroma pergantian tahun mulai menyebar bersama janji-janji baru, bumi Sumatera kembali mengirimkan peringatan pedih yang mengguncang nurani kolektif kita. Bukan melalui gemuruh kembang api, melainkan melalui deru banjir bandang yang kejam, yang menenggelamkan harapan dan menyisakan duka lara di banyak wilayah. Tragedi ekologis yang berulang ini, yang seolah menjadi ritus pahit di penghujung tahun, adalah cermin yang tak bisa kita hindari; sebuah refleksi mendalam tentang hubungan rapuh kita dengan alam, dan betapa jauhnya kita telah berjalan dari prinsip kepedulian lingkungan yang seharusnya kita junjung.

Luka di Sumatera Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya sekadar angka statistik korban jiwa dan kerugian materi. Ia adalah cerita pilu tentang hilangnya rumah, lenyapnya mata pencaharian, dan trauma mendalam yang akan membayangi para penyintas hingga bertahun-tahun mendatang. Di tengah puing-puing sisa amukan air bah, kita menyaksikan konsekuensi pahit dari apa yang banyak ahli sebut sebagai “dosa ekologis” kolektif. Alam, yang selama ini diam-diam menahan dan menyerap keangkuhan manusia, kini telah mencapai batasnya. Banjir bandang bukanlah “fenomena alamiah” yang murni tak terhindarkan; ia adalah manifestasi pahit dari sistem yang rusak, tata kelola lingkungan yang lemah, dan nafsu eksploitasi yang tak terkendali.

Inti dari permasalahan ini adalah degradasi lingkungan yang sistematis. Sumatera, pulau dengan kekayaan hutan hujan tropis yang tak ternilai, telah menjadi korban deforestasi masif. Kawasan hutan yang seharusnya menjadi “sponge” atau penyangga alami untuk menahan curah hujan, kini telah berganti rupa menjadi perkebunan monokultur, lahan pertambangan yang merusak, atau pembangunan infrastruktur yang abai terhadap daya dukung lingkungan. Akar-akar pohon yang kuat, yang berfungsi bak jaring pengaman alam, kini telah hilang. Akibatnya, ketika hujan ekstrem—yang frekuensinya semakin meningkat akibat perubahan iklim datang, air tak lagi terserap perlahan. Ia berlari kencang, membawa serta lumpur, kayu, dan bebatuan, berubah menjadi banjir bandang yang menghancurkan.

Kepedulian lingkungan, dalam konteks bencana ini, bukanlah lagi pilihan ideologis yang boleh ditunda, melainkan kebutuhan mendesak untuk mempertahankan hidup. Tragedi ini menyerukan agar kita segera mengakhiri budaya “business as usual” yang mengedepankan keuntungan jangka pendek di atas keberlanjutan. Kita perlu merefleksikan secara jujur: seberapa besar kontribusi kita baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kerusakan ini ? Apakah kita telah menuntut pertanggungjawaban yang tegas dari pihak-pihak yang melakukan perusakan lingkungan? Apakah kita telah mempraktikkan gaya hidup yang ramah lingkungan, bahkan dalam skala terkecil di rumah kita?

Pemerintah daerah dan pusat harus menggunakan momentum akhir tahun ini bukan hanya untuk evaluasi kinerja, melainkan untuk evaluasi total tata kelola lingkungan nasional. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perusakan hutan dan pencemaran sungai mutlak diperlukan. Mitigasi bencana tidak hanya berarti menyiapkan tim penyelamat, tetapi juga restorasi ekosistem secara besar-besaran, reboisasi yang berkelanjutan, dan penataan ruang yang mempertimbangkan risiko bencana.

Namun, kepedulian tak boleh berhenti pada level kebijakan. Solidaritas kemanusiaan harus menjadi kekuatan utama kita di tengah kesulitan. Melihat ketabahan para penyintas, dan semangat gotong royong para relawan, adalah pengingat bahwa bahkan dalam kehancuran, harapan dan kemanusiaan tetap menyala. Saat tahun berganti, marilah kita jadikan air mata di Sumatera sebagai sumpah sunyi untuk lebih peduli. Membangun kembali yang hancur adalah tugas yang berat, tetapi yang jauh lebih penting adalah membangun kembali kesadaran kolektif kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Akhir tahun ini, biarlah refleksi kita tentang banjir bandang di Sumatera memacu kita untuk menjadi penjaga lingkungan yang lebih baik, agar deru air bah tak lagi menjadi lagu sedih yang mengiringi pergantian masa. Kita harus menyadari bahwa nasib kita terikat erat pada kesehatan lingkungan; menjaga alam adalah menjaga diri kita sendiri.

Ahmad Fajarisma

Saya seorang pendidik berpengalaman, tinggal di Bali sekaligus penulis yang aktif menuangkan gagasan, serta fasilitator terpercaya bagi UMKM dalam meraih Sertifikat Halal MUI.

Tags

Baca Juga