Ini waktu yang indah, begitu cerah. Selepas subuh kami tak tidur, meluangkan waktu menuju sandaran pantai sambil menanti terbitnya pesona matahari. Saya ajak anak dan istri, duduk bareng, sambil melamun menatap panorama senja pagi hari yang eksotik.
Dalam tatapan senja yang memerah, menunggu terbit mentari, terlintas rindu mendalam pada bulan september 2024 lalu. Ayah yang telah pergi selamanya, tiba-tiba datang dalam ingatan.
Sembari ngobrol bersama istri, menjadi pengalihan rinduku pada Ayah. Kali ini Ramadhan tanpamu, gawaiku yang biasa ramai dengan pesan ilmu, kini telah sepi. Ya, hanya grup wa lain-lain saja yang meramaikan suasana.
Kami memilih tempat ini begitu spesial, kadang pagi namun lebih sering sore, sambil menghiasi waktu hanya untuk sekedar healing ringan dengan istri, sementara anak-anak bermain pesisir yang harus turun melewati batuan pondasi sandaran pantai.
Tentu perbincangan kami seputar keinginan masa depan, padahal itu jangan terlalu dikuatirkan, sekaranglah yang selalu penting untuk disyukuri, kita sudah diberi anugerah sehat, 2 anak putri cantik, serta dapat menikmati perjalanan hidup walau hanya sederhana namun penuh makna di keluarga kami sendiri.





